Rabu, 14 Januari 2015

Mengenali Remaja Bermasalah

Sering kita sebagai orang tua kurang dapat mengenali permasalahan pada anak remaja kita. Kadang setelah terlambat dimana telah muncul masalah mental atau sosial pada anak baru menyadari kalau anak kita ternyata bermasalah. Remaja  memiliki karakteristik yang khas. Remaja cenderung energetik, selalu ingin tahu, emosi yang tidak stabil, cenderung berontak dan mengukur segalanya dengan ukurannya sendiri dengan cara berfikir yang tidak logis. Sering kita sebut masa ini sebagai masa storm and stress , mereka mulai banyak menghabiskan waktu dengan teman, menganggap bahwa orang dewasa tidak dapat mengerti masalah mereka, selalu  ingin tampil dan diterima dipergaulan.
Saat ini merupakan periode yang sangat menentukan karena hubungan mereka dengan kawan dapat jauh melebihi hubungan dengan orang tua, sehingga komunikasi dengan orang tua mulai berkurang. Mereka senang melakukan sesuatu yang mengandung risiko dan terlihat hebat. Hal inilah yang sering menyebabkan konflik dengan orangtua, guru maupun figur otoritas lainnya. Kadang bentuk perhatian yang berlebih tidak mereka inginkan, mereka sering menanyakan kembali pada orangtua bukankah saya bukan anak-anak lagi? Kok selalu tanya tanya sih? Hal inilah yang kemudian menjadikan kita terlambat dalam mendeteksi permasalahan remaja pada anak anak kita.
Memang diperlukan pendekatan yang baik dalam menanyakan atau mengidentifikasi permasalahan yang menyangkut pribadi remaja ataupun lingkungannya. Identifikasi lingkungan sangat penting kita lakukan kerena merupakan faktor risiko untuk terjadinya permasalahan pada remaja. Apabila dalam proses perkembangan remaja dimana pada periode ini terdapat  kesenjangan antara perkembangan fisik, sosial dan psikologik yang berbeda, seorang remaja tidak dapat beradaptasi dengan lingkungannya maka keadaan ini dapat pula mempengaruhi perilaku atau kesehatan mental mereka. Kadang kadang remaja melakukan hal-hal diluar norma untuk mendapatkan pengakuan tentang keberadaan dirinya dimasyarakat, salah satunya adalah melakukan tindakan penyalahgunaan obat/zat.
Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat-zat adiktif lainnya (NAPZA) merupakan masalah yang perkembangannya di Indonesia dewasa ini sangat memprihatinkan. Ditinjau dari aspek sosial, masalah ini bukan hanya berakibat negatif terhadap diri penyandang masalah saja, melainkan membawa dampak juga terhadap keluarga, lingkungan sosial, lingkungan masyarakatnya, bahkan dapat mengancam dan membahayakan masa depan bangsa dan negara. Dalam proses perkembangannya seorang remaja akan menemukan beberapa peristiwa yang dapat menimbulkan stress dan mereka harus berjuang untuk mengatasinya.  yang ringan, sedang dan bahkan dapat menyebabkan gangguan mental. Seorang remaja sering mengalami gangguan mental yang memerlukan bantuan dari profesional baik guru, psikolog, dokter, dokter anak maupun psikiater. Bagaimanapun stigmata bahwa seorang remaja yang mengalami gangguan mental akan membuat remaja tersebut takut untuk membicarakan masalahnya pada orang lain sehingga seringkali remaja tidak mendapatkan dukungan yang diperlukannya. 
Mengenali faktor risiko sangatlah penting dalam mendeteksi dini seorang remaja bermasalah. Orangtua harus mencermati dengan menyadari bagaimana kehidupan rumahtangganya, memonitor prestasi sekolah anak, mengenali lingkungannya, mengenali perilaku yang tidak biasa, mengenali permasalahan baik dilingkungan keluarga, sekolah atau masyarakat. Faktor protektif membuat seorang remaja dapat mengatasi akibat negatif dari permasalahan yang timbul pada masa remaja sehingga seorang remaja dapat mengendalikan diri untuk tidak berlanjut menjadi masalah pada pribadinya sendiri atau lingkungannya, misalnya tidak menggunakan obat, tidak menjadi depresi, tidak berprilaku seksual yang salah dan lain-lain. Faktor protektif pada seorang remaja dapat kita dukung dengan menciptakan lingkungan yang baik dan benar yang didasari oleh agama, peraturan, pengetahuan orangtua mengenai kesehatan remaja dan pola asuh yang sesuai.
Beberapa risiko permasalahan remaja yang mungkin timbul antara lain: gangguan pertumbuhan, kebiasaan makan, obesitas, kebugaran, kolesterol, tekanan darah, penampilan, trauma/kecelakaan, kenakalan remaja, masalah belajar, prestasi, hubungan antar teman, depresi, cemas, hiperaktifitas, bunuh diri, penggunaan obat-obat terlarang, perilaku seksual yang menyimpang dan lain lain.
Diperlukan konsultasi dengan ahlinya setelah orangtua mengenali permasalahan seorang remaja. Orangtua dapat berkonsultasi dengan dokter, dokter anak, psikolog atau psikiatri dalam menyelesaikan permasalahan tersebut.
  

sumber : http://idai.or.id/public-articles/seputar-kesehatan-anak/mengenali-remaja-bermasalah.html

Remaja Berprestasi

Sebenarnya, pencapaian prestasi pada masa remaja sangat penting, terutama prestasi belajar, karenamenjadi landasan untuk langkah-langkah selanjutnya. Tetapi, John W. Santrock dalam bukunya yang berjudul Adolescence menganggap bahwa masa remaja adalah masa kritis dalam pencapaian prestasi. Hal ini disebabkan tekanan sosial dan akademis yang memaksa remaja untuk berprestasi dengan cara-cara yang baru.

Ada pula dengan prestasi yang membutuhkan motivasi untuk mencapai kesuksesan. Motivasi berprestasi adalah keinginan untuk menyelesaikan sesuatu, mencapai suatu standar kesuksesan, dan berusaha untuk mencapai kesuksesan tersebut.

Tetapi, menurut Homer seperti yang dikutip melalui buku Adolescence, sekarang ini, banyak remaja yang takut akan kesuksesan. Mereka khawatir tidak akan diterima oleh lingkungan sosialnya bila mereka sukses. Tentu saja, kita tidak boleh larut dalam pandangan keliru tersebut. Kita memang makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam kehidupan.

Akan tetapi, kita juga mempunyai kewajiban bersama dan mencapai apa yang kita cita-citakan. Jika selama ini kita belum berprestasi, kita tidak perlu malu untuk memulai membangun prestasi. Karena prestasi kita di masa depan ditentukan oleh apa yang kita lakukan saat ini.

Oleh karena itu, jadilah remaja yang berhasil. Jadilah remaja yang sukses di sekolah dan menikmati sekolahnya.Jadilah remaja yang memiliki prestasi di bidang yang disukai.

Sifat siswa yang berprestasi …
  •          Yakin bahwa Prestasi adalah tanggung jawab diri sendiri.
  •          Berpendapat bahwa sekolah itu penting, tetapi bukan yang paling penting.
  •          Memahami bahwa sekolah tidak 100% mengasyikkan.
  •          Memandang diri sendiri sebagai sosok yang kompeten dan mampu.
  •         Jika tidak mendapatkan nilai sempurna dalam suatu mata pelajaran, maka tidak akan menganggap hal itu sebagai kegagalan.
  •       Tidak begitu menekankan arti penting kesuksesan.Menyadari bahwa membuat kesalahan adalah bagian dari proses belajar dan berkembang.

SUKSES BERPRESTASI DI SEKOLAH
Ada banyak hal yang dapat kita lakukan agar kita dapat berprestasi dalam belajar:
1.Persiapan diri dalam menghadapi pelajaran
2.Menciptakan pusat belajar di rumah
3.Pengaturan waktu
4.Pengaturan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan dalam belajar

Persiapan Menghadapi Pelajaran
1.      Di rumah. Sebelum berangkat sekolah, periksa dulu barang-barang yang kita butuhkan hari itu! Apakah semuanya sudah lengkap untuk dibawa?

2.      Di lokermu. Sebelum masuk kelas, periksa dulu loker kita! Pastikan semua yang kita butuhkan sudah tersedia.

3.      Di kelas. Sebelum ke luar kelas, catat tugas-tugas yang diberikan dan apa yang harus kita lakukan!

4.    Kembali ke rumah. Periksalah jadwal harianmu! Cobalah berpegang teguh pada jadwal itu! Tepatilah komitmen belajar kita! Jika memungkinkan, kerjakan PR pada jam yang sama setiap hari.

5.      Di rumah. Sebelum tidur, letakkan tas, alat tulis, buku, PR, tugas sekolah yang sudah ditandatangani, tugas-tugas khusus, dan apa saja yang kita butuhkan esok paginya di satu tempat.

Tips agar bisa belajar dengan baik.
1.     Tempat. Berusahalah menemukan tempat yang tenang dan bebas dari gangguan (suara telepon, TV, radio, video game).
2.      Pencahayaan. Sebagian siswa menyukai cahaya terang, sementara yang lain memilih cahaya yang lebih redup. Tetapi, cahaya alami matahari adalah cahaya yang paling bagus untuk kita.
3.      Tempat duduk. Boleh meringkuk di sofa empuk ketika membaca cerita. Dan cobalah untuk duduk di kursi berpunggung di depan meja agar kita berkonsentrasi.
4.       Keributan. Carilah tempat yang jauh dari pusat keramaian.
5.   Alat tulis. Siapkan alat tulis selengkap mungkin, seperti pensil, pulpen, karet penghapus, rautan pensil, penggaris, dan pensil warna di mejamu.

6.      Komputer. Jika kamu memiliki komputer di rumah yang diletakkan bukan di temapat belajar, melainkan di tempat umum yang bisa digunakan bersama anggota keluarga laian, dan kamu harus membuat jadwal untuk menggunakan komputer.7.Tempat menyimpan tugas berjangka panjang. Sebagian tugas dari sekolah bisa menghabiskan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk diselesaikan. Dalam merencanakan tugas berjangka panjang, pikirkan pula cara menata bahan-bahan yang kamu butuhkan untuk tugas 


sumber : http://ruangkonselingwatuna.blogspot.com/2012/02/remaja-berprestasi.html

Artikel tentang Remaja masa kini


Pada masa remaja, terdapat banyak hal baru yang terjadi, dan biasanya lebih bersifat menggairahkan, karena hal baru yang mereka alami merupakan tanda-tanda menuju kedewasaan. Dari masalah yang timbul akibat pergaulan, keingin tahuan tentang asmara dan seks, hingga masalah-masalah yang bergesekan dengan hukum dan tatanan sosial yang berlaku di sekitar remaja.Hal-hal yang terakhir ini biasanya terjadi karena banyak faktor, tetapi berdasarkan penelitian, jumlah yang terbesar adalah karena "tingginya" rasa solidaritas antar teman, pengakuan kelompok, atau ajang penunjukkan identitas diri. Masalah akan timbul pada saat remaja salah memilih arah dalam berkelompok.Banyak ahli psikologi yang menyatakan bahwa masa remaja merupakan masa yang penuh masalah, penuh gejolak, penuh risiko (secara psikologis), over energi, dan lain sebagainya, yang disebabkan oleh aktifnya hormon-hormon tertentu. Tetapi statement yang timbul akibat pernyataan yang stereotype dengan pernyataan diatas, membuat remaja pun merasa bahwa apa yang terjadi, apa yang mereka lakukan adalah suatu hal yang biasa dan wajar.Minat untuk berkelompok menjadi bagian dari proses tumbuh kembang yang remaja alami. Yang dimaksud di sini bukan sekadar kelompok biasa, melainkan sebuah kelompok yang memiliki kekhasan orientasi, nilai-nilai, norma, dan kesepakatan yang secara khusus hanya berlaku dalam kelompok tersebut. Atau yang biasa disebut geng. Biasanya kelompok semacam ini memiliki usia sebaya atau bisa juga disebut peer group.Demi kawan yang menjadi anggota kelompok ini, remaja bisa melakukan dan mengorbankan apa pun, dengan satu tujuan, Solidaritas. Geng, menjadi suatu wadah yang luar biasa apabila bisa mengarah terhadap hal yang positif. Tetapi terkadang solidaritas menjadi hal yang bersifat semu, buta dan destruktif, yang pada akhirnya merusak arti dari solidaritas itu sendiri.Demi alasan solidaritas, sebuah geng sering kali memberikan tantangan atau tekanan-tekanan kepada anggota kelompoknya (peer pressure) yang terkadang berlawanan dengan hukum atau tatanan sosial yang ada. Tekanan itu bisa saja berupa paksaan untuk menggunakan narkoba, mencium pacar, melakukan hubungan seks, melakukan penodongan, bolos sekolah, tawuran, merokok, corat-coret tembok, dan masih banyak lagi.Secara individual, remaja sering merasa tidak nyaman dalam melakukan apa yang dituntutkan pada dirinya. Namun, karena besarnya tekanan atau besarnya keinginan untuk diakui, ketidak berdayaan untuk meninggalkan kelompok, dan ketidak mampuan untuk mengatakan "tidak", membuat segala tuntutan yang diberikan kelompok secara terpaksa dilakukan. Lama kelamaan prilaku ini menjadi kebiasaan, dan melekat sebagai suatu karakter yang diwujudkan dalam berbagai prilaku negatif.Kelompok atau teman sebaya memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menentukan arah hidup remaja. Jika remaja berada dalam lingkungan pergaulan yang penuh dengan "energi negatif" seperti yang terurai di atas, segala bentuk sikap, perilaku, dan tujuan hidup remaja menjadi negatif. Sebaliknya, jika remaja berada dalam lingkungan pergaulan yang selalu menyebarkan "energi positif", yaitu sebuah kelompok yang selalu memberikan motivasi, dukungan, dan peluang untuk mengaktualisasikan diri secara positif kepada semua anggotanya, remaja juga akan memiliki sikap yang positif. Prinsipnya, perilaku kelompok itu bersifat menular.Motivasi dalam kelompok (peer motivation) adalah salah satu contoh energi yang memiliki kekuatan luar biasa, yang cenderung melatarbelakangi apa pun yang remaja lakukan. Dalam konteks motivasi yang positif, seandainya ini menjadi sebuah budaya dalam geng, barangkali tidak akan ada lagi kata-kata "kenakalan remaja" yang dialamatkan kepada remaja. Lembaga pemasyarakatan juga tidak akan lagi dipenuhi oleh penghuni berusia produktif, dan di negeri tercinta ini akan semakin banyak orang sukses berusia muda. Remaja juga tidak perlu lagi merasakan peer pressure, yang bisa membuat mereka stres.Secara teori diatas, remaja akan menjadi pribadi yang diinginkan masyarakat. Tetapi tentu saja hal ini tidak dapat hanya dibebankan pada kelompok ataupun geng yang dimiliki remaja. Karena remaja merupakan individu yang bebas dan masing-masing tentu memiliki keunikan karakter bawaan dari keluarga. Banyak faktor yang juga dapat memicu hal buruk terjadi pada remaja.Seperti yang telah diuraikan diatas, kelompok remaja merupakan sekelompok remaja dengan nilai, keinginan dan nasib yang sama. Contoh, banyak sorotan yang dilakukan publik terhadap kelompok remaja yang merupakan kumpulan anak dari keluarga broken home. Kekerasan yang telah mereka alami sejak masa kecil, trauma mendalam dari perpecahan keluarga, akan kembali menjadi pencetus kenakalan dan kebrutalan remaja.Tetapi, masa remaja memang merupakan masa dimana seseorang belajar bersosialisasi dengan sebayanya secara lebih mendalam dan dengan itu pula mereka mendapatkan jati diri dari apa yang mereka inginkan.Hingga, terlepas dari itu semua, remaja merupakan masa yang indah dalam hidup manusia, dan dalam masa yang akan datang, akan menjadikan masa remaja merupakan tempat untuk memacu landasan dalam menggapai kedewasaan.


sumber : http://berbicara-info.blogspot.com/2012/12/artikel-tentang-remaja-masa-kini.html

Menjadi Remaja yang Kreatif

Setiap orang tentunya ingin menjadi remaja yang cerdas dan kreatif. Untuk itu, banyak sekali cara yang mereka lakukan agar dapat berkreasi, agar dapat mengembangkan bakat yang dimiliki.

Karena kreatif dan cerdas adalah modal utama bagi seorang remaja untuk meraih masa depannya. 

Sebanyak itu remaja yang ingin cerdas dan kreatif, maka sebanyak itulah ternyata remaja yang tidak mau mengembangkan bakat yang mereka miliki dan mengasah potensi diri mereka. Banyak sekali alasan yang mereka tuturkan. Lantas apa faktor yang menyebabkan kurangnya minat generasi muda khususnya remaja untuk mengembangkan bakatnya. 

Pertama, kebanyakan dari mereka sebelum memulai pekerjaan sudah bilang nggak bisa. Kata-kata inilah yang sering terlontar dari mulut remaja ketika akan memulai suatu pekerjaan. Mereka seringkali tidak percaya dengan kemampuan yang mereka miliki dengan kata lain mereka kurang percaya diri. Inilah yang dinamakan dengan kalah sebelum berperang. Seperti inikah mental generasi muda kita?.

Kedua, faktor yang membuat tidak kreatif adalah belum mencoba sudah bilang nggak mau. Bahkan ini yang lebih parah lagi mereka tidak mau mencoba untuk melakukan hal-hal yang berbau positif dan mengembangkan kemampuan mereka. tidak jarang sekali kita mendengar ucapan gengsi dari remaja ketika melakukan pekerjaan yang padahal yang membuat mereka kreatif. lalu kegiatan apakah yang sebenarnya mereka inginkan yang tidak membuat mereka gengsi?.

Ketiga adalah kurangnya kesadaran generasi muda untuk berkreasi, mereka lebih cenderung mengahabiskan waktu mereka dengan hal-hal yang tidak berguna. Banyak sekali kita lihat remaja yang enggan untuk mengisi waktu mereka dengan hal yang bermanfaat. Padahal semestinya di waktu muda inilah kesempatan kita untuk banyak berkreatifitas. Dengan beraktifitas bisa membantu kita untuk membagi waktu. misalnya waktu kita yang terbuang sia-sia bisa kita manfaatkan. Disamping itu dengan beaktifitas jadwal kita akan lebih teratur, sehingga kita terbiasa untuk hidup disiplin. Bagaimanakah seharusnya agar menjadi remaja yang kreatif dan cerdas?. Caranya ialah, dengan cara mencari jati diri kita. Pada saat sekarang ini kita remaja dalam proses pencarian jati diri. 

maka dari itu jangan gengsi untuk melakukan berbagai kegiatan yang belum kita lakukan karena siapa tahu dari kegiatan coba-coba tersebut kita menemukan bakat kita yang terpendam. tapi, ingat kegiatan yang kita lakukan haruslah kegiatan yang positif. Jangan melakukan kegiatan coba-coba yang berbau negatif, karena bukannya menjadi remaja yang kreatif malahan menjadi remaja yang tidak bermoral.

Tidak sulit menjadi remaja yang kreatif. Hal ini tentunya berdasarkan dari keinginan teman-teman sendiri. Jika orang bisa kenapa kita nggak?. Tapi ingat, dalam melakukan kegiatan, sekolah tetap nomor satu, jangan sampai sekolah tinggal hanya gara-gara menekuni banyak kegiatan, ya percuma saja. Karena remaja yang kreatif itu adalah remaja yang bukan hanya sukses dalam berbagai kegiatan tapi juga sukses dalam urusan belajar disekolah. 


sumber : https://frestialdi.wordpress.com/2008/01/09/menjadi-remaja-yang-kreatif/

Artikel tentang “kenakalan remaja”

Dewasa ini, kenakalan remaja telah menjadi penyakit ganas di tengah-tengah masyarakat, mengingat remaja merupakan bibit pemegang tampuk pemerintahan negara di masa depan. Lebih parah, berbagai kasus kenakalan remaja tersinyalir telah meresahkan masyarakat, semisal kasus pencurian, kasus asusila seperti free sex, pemerkosaan, bahkan pembunuhan. Oleh berbagai praktisi media bahkan para pemerhati sosial hal ini telah banyak digubris dan dicari benang merahnya. Hanya saja, sejauh ini usaha tersebut belum terlihat goal dan terkesan hanya sebagai bahan berita di media massa dan diskursus oleh berbagai kalangan yang belum ada realisasi khusus.
            Sejatinya, kenakalan semacam itu normal terjadi pada diri remaja karena pada masa itu mereka sedang berada dalam masa transisi: anak menuju dewasa.  Seperti pemikiran Emile Durkheim (dalam Soerjono Soekanto, 1985: 73), perilaku menyimpang atau jahat kalau dalam batas-batas tertentu dianggap sebagai fakta sosial yang normal. Terkait dengan kenakalan remaja, dalam bukunya yang berjudul “Rules of Sociological Method”disebutkan bahwa dalam batas-batas tertentu kenakalan adalah normal karena tidak mungkin dihapusnya secara tuntas. Dengan demikian, perilaku dikatakan normal sejauh perilaku tersebut tidak menimbulkan keresahan dalam masyarakat, perilaku tersebut terjadi dalam batas-batas tertentu dan dilihat pada suatu perbuatan yang tidak disengaja. Namun, kontras dengan pemikiran tersebut, kenyataan yang akhir-akhir ini terjadi adalah kenakalan remaja yang disengaja, yakni dilakukan dengan kesadaran. Miris!
Pengaruh psikologis
            Remaja, seperti dikatakan di atas, yang merupakan masa transisi dari anak menuju dewasa, memiliki potensi besar untuk melakukan hal-hal menyimpang dari kondisi (baca: perilaku) normal. Seperti ada pergolakan dalam diri mereka untuk melakukakan hal-hal yang berbeda dengan yang lain di sekelilingnya, hal-hal yang dianggap normal oleh kebanyakan orang. Sependapat dengan hal itu, Becker (dalam Soerjono Soekanto, 198: 86), mengatakan bahwa mereka yang menyimpang mempunyai dorongan untuk berbuat demikian. Hal itu disebabkan karena setiap manusia pada dasarnya pasti mengalami dorongan untuk melanggar pada situasi tertentu. Sebaliknya, orang yang dianggap normal dapat menahan diri dari dorongan-dorongan untuk menyimpang. Tak pelak, dorongan semacam itupun didasari oleh berbagai hal, seperti motif untuk mencari sensasi, bahkan karena sifat dasar remaja yang  pada usia itu sedang melalui tahap mengidentifikasi, semisal yang dilakukan dari tokoh idola atau yang dianggapnya wah.

Lingkungan, Pembentuk Karakter Remaja

            Selain pengaruh psikologi, lingkungan pun memiliki pengaruh vital dalam pembentukan karakter remaja yang selanjutnya akan diperankan dalam proses sosialisasinya sebagai makhluk sosial, termasuk perannya untuk berbuat kenakalan atau tidak. Seseorang dapat menjadi buruk atau jelek karena hidup dalam lingkungan yang buruk (Eitzen, 1986:10). Lebih jauh dikritisi, kondisi semacam itu memungkinkan seseorang (baca: remaja) melakukan penyimpangan karena lingkungan telah mengalami disorganisasi sosial, sehingga nilai-nilai dan norma yang berlaku telah lapuk atau seakan tinggal nama/ sebagai simbol. Dengan kata lain, sanksi yang ada seolah sudah ‘tidak’ berlaku lagi.
            Remaja semacam itu yang oleh Kartini Kartono (1988: 93) disebut sebagai anak cacat sosial atau cacat mental sebenarnya sudah mengalami demoralisasi atau pemerosotan gradasi moral. Selain karena kondisi sosial di atas, kondisi keluarga pun sangat menentukan, terutama proses pendidikan dari orang tua sebagai upaya pembentukan karakter (character building) anak.
Sebagai bukti, Masngudin HMS, dalam sebuah penelitiannya tentang hubungan antara sikap orang tua dalam pendidikan anaknya dengan tingkat kenakalan di Pondok Pinang, Jakarta, menyebutkan bahwa salah satu sebab kenakalan adalah sikap orang tua dalam mendidik anaknya. Dari 30 koresponden, mereka yang orang tuanya otoriter sebanyak 5 responden (16,6%), overprotection 3 responden (10%), kurang memperhatikan 12 responden (40%), dan tidak memperhatikan sama sekali 10 responden (33,4%). Dari data seluruh responden yang orang tuanya tidak memperhatikan sama sekali melakukan kenakalan khusus dan yang kurang memperhatikan 11 dari 12 responden melakukan kenakalan khusus. 
Terkait dengan pembentukan karakter, penelitian itu pun cukup menjadi bukti vitalitas pendidikan keluarga. Keluarga yang represif (selalu memberikan hukuman) dan otoriter akan cenderung membentuk sifat yang keras pada pribadi anak sehingga mereka lebih berpotensi untuk ‘agresif’, atau sebaliknya bagi psikis mereka yang tidak kuat atas bentuk didikan orang tuanya akan menjadikan sifat ‘lembek’ atau lemah. Ini berbeda dengan bentuk prefentif atau pemberian nasehat dan pujian, bahkan pemberian kesempatan bagi remaja untuk mencurahkan gagasannya. Mereka akan terbentuk menjadi pribadi yang cenderung dapat menghargai orang lain, dan berbagai perilaku yang lebih jauh dari bentuk penyimpangan.
Sebuah tulisan menarik, Samuel Smiles (1887) mencatat dalam bukunya Life and Labor: tanamkan pemikiran, dan kamu akan memanen tindakan. Tanamkan tindakan, dan kamu akan memanen kebiasaan. Tanamkan kebiasaan, dan kamu akan meraih karakter. Tanamkan karakter dan kamu akan memanen tujuan. Beranjak dari kata bijak itu, karakter merupakan modal awal dari hasil interaksi seseorang, termasuk remaja, untuk mencapai kehidupan yang penuh dengan ketenangan kelak. Sayangnya, pembentukan tersebut belum sepenuhnya diterapkan di sejumlah banyak keluarga, terlihat dari proses pendidikan yang terkesan memanjakan anak, bahkan pendidikan yang termanjakan oleh kemajuan zaman (baca: globalisasi).
Ya, ternyata karakter remaja dan ujung-ujungnya berbagai kasus kenakalan pun tak jauh-jauh dari globalisasi, terutama di bidang teknologi, sertawesternisasi (budaya kebarat-baratan). Belum lama, seperti yang sudah dikoar-koarkan berbagai media, kasus smack down yang sempat memiliki rating tinggi dalam tayangan televisi di Indonesia telah mengambil posisi tersendiri di kalangan anak/ remaja. Mereka dengan serta merta mempraktekan adegan semacam itu yang pada akhirnya menjadikan suatu bentuk kriminalitas remaja.
Selain itu, berbagai adegan pornografi di televisi mulai dari kasus ringan-berat pun telah menjadi bentuk pendidikan nilai-nilai yang tidak sepantasnya dilakukan terhadap remaja. Mereka yang sebenarnya membutuhkan asupan gizi semisal berupa tontonan yang mendidik yang mencerminkan insan cendekia, intelek, atau akademis, telah diracuni dengan berbagai adegan pacaran bahkan bentuk kegiatan seksual yang lebih jauh/ parah.  Bidikan semacam itu rupanya sangat ampuk membangun karakter tempe setiap anak/ remaja.
Sekretaris tetap dalam Kementrian Luar Negeri Singapura, Kishore Mahbubani (dalam John Naisbitt dalam bukunya yang berjudul “Megatrends Asia),” mengimbau Barat untuk tidak lagi “meng-kuliah-i” orang-orang Asia karena Barat tidak memiliki kualifikasi moral (moral standing) untuk memberitahu orang lain apa yang harus dilakukan. Ia menganggap bahwa masyarakat Barat telah kacau. Ini seyogyanya menjadi dasar agar masyarakat tidak lagi mendewakan Barat sebagai patokan dalam pergaulan (terutama bagi remaja). Dan tak bisa dipungkiri lagi bahwa sebenarnya budaya di atas adalah budaya yang banyak dipengaaruhi oleh Barat yang dalam hal tertentu sebenarnya sangat kurang memuat nilai-nilai ketimuran. Yaitu yang kurang memuat nilai etika dan unggah-ungguh (kesopanan-Jawa).
Menanggapi polemik tersebut, seyogyanya harus ada penanganan serius dan berkesinambungan oleh berbagai elemen masyarakat. Pertama, orangtua harus selalu mengembangkan karakter (character building) anak, yakni membangun jiwa anak dengan tabiat/ sifat-sifat yang penuh dengan nilai-nilai kebaikan. Pentingnya peran keluarga dalam mendidik nilai-nilai anak sejak dini menjadikan orangtua harus dapat menjadi sang maestrobuah jatuh tak jauh dari pohonnya. Singkatnya, orangtua pun harus memiliki sifat yang baik pula. yang dapat dijadikan teladan oleh anak. Ingat sepenggal peribahasa,
Kedua, sekolah yang kini ibaratnya menjadi rumah kedua bagi anak harus mampu menciptakan kultur sekolah yang relevan dengan perkembangan psikis remaja: kultur yang penuh dengan pembentukan karakter positif. Misalnya, pendidikan nir-kekerasan, serta berbagai keculasan semisal menghindarkan murid pada budaya mencontek yang juga merupakan salah saatu bentuk kenakalan remaja bertaraf ringan. Penghargaan terhadap prestasi siswa pun sangat diperlukan untuk menumbuhkan etos juang, semisal ucapan terima kasih atau pemberian pujian, serta bentuk pembelajaran tanggung jawab semisal minta maaf baik oleh siswa maupun guru apabila melakukan suatu kesalahan. Dan ini oleh Jepang pun telah lama ditumbuhkan pada pribadi siswa.
Selain itu, pendidikan etika/ moral pun harus tetap diupayakan secara teoritis. Pendidikan pancasila/ kewarganegaraan dan agama yang memuat nilai-nilai moral saat ini terkesan mulai ditinggalkan karena sejumlah banyak siswa lebih tertarik untuk mempelajari dan mengembangkan ilmu-ilmu eksak ataupun sosial. Inilah tugas guru yang bersangkutan atau pihak kurikulum untuk menjadikan mata pelajaran tersebut menarik lagi di mata siswa dan dapat dijadikan ramuan jiwa yang mujarab dalam pembentukan karakternya.
Terakhir, bersama semua pihak, termasuk pemerintah dalam hal penanganan kenakalan remaja dan berbagai kebijakannya, semoga kenakalan remaja tidak semakin menjadi, cukup menjadi kenakalan yang normal pada diri remaja dalam ‘menikmati’ masa remajanya karena seorang filsuf, Kahlil Gibran pun mengatakan bahwa anak-anak memiliki generasi dan dunianya sendiri. Semoga remaja Indonesia tumbuh menjadi remaja yang kelak mampu mempersembahkan kejayaan dengan karakter yang baik sehingga nama Indonesia pun tersiar kepenjuru dunia bak kasturi. Tabik!


sumber : http://xfqjcbx.tumblr.com/post/1292497277/artikel-tentang-kenakalan-remaja

ARTIKEL PERGAULAN REMAJA YANG BAIK

Kita semua sudah mengetahui saat ini banyak sekali pergaulan yang tidak sehat di lingkungan sekitar kita ini terutama pergaulan anak remaja ataupun anak-anak yang baru masuk masa pubertas.Bagaimana kita dapat mengupayakan agar para remaja memiliki pergaulan yang baik yang sehat sehinggga kualitas hidupnya akan meningkat sebagai pondasi untuk tumbuh menjadi dewasa sehingga tidak mudah terjerumus ke dalam pergaulan kurang baik atau kurang sehat. Dalam hal ini Peran orang-orang disekitarnya juga akan mempengaruhi pergaulan remaja, dirumah peran dari orang tua membantu membentuk karakter anak supaya menjadi lebih baik , di sekolah guru juga membantu pembentukan karakter siswa.Lingkungan adalah salah satu penyebab pergaulan remaja itu baik atau menyimpang,karena remaja itu banyak menghabiskan waktu mereka bermain setelah pulang sekolah jadi otomatis mereka lebih banyak berinterkasi sosial dengan lingkungan umum. 

Remaja yang merasa bahagia akan bergaul dengan baik juga,adanya wujud perhatian dan kasih sayang sangatlah penting karena kurangnya perhatian dan kasih sayang maka remaja akan bisa terjerumus dalam pergaulan tidak sehat,perhatian dan kasih sayang itu tentunya berasal dari orang tua dahulu ataupun keluarga dekat dan selanjutnya berasal dari teman-teman sepermainannya. Remaja yang terjerumus dalam pergaulan freesexs, narkoba, minum minuman keras biasanya karena tidak memperoleh kasih sayang dan perhatian terutama dari keluarga dan kebetulan remaja tersebut mendapatkannya di suatu komunitas tertentu dipergaulan yang kurang baik tetapi dia bisa diterima di komunitas tersebut apa adanya karena biasanya aturannya longgar apa aja diperbolehkan sehingga dia merasa nyaman dikomunitas tersebut. Remaja itu akan menjauhi pergaulan bebas apabila dia sudah merasa bahagia dengan semua perhatian dan kasih sayang yang dia terima dari orang-orang terdekat,sehingga dia tidak punya waktu lagi untuk mencari kenyamanan dtempat lain dengan cara-cara yang secara tidak langsung akan membuat dia salah jalan hidup.

Karena Apabila remaja-remaja telah masuk ke lingkungan yang salah biasanya bila ditarik ke lingkungan keluarga akan susah karena mereka masih sangat merasa nyaman dengan hal-hal yang baru mereka rasakan. Jadi sebelum terlibat lebih dalam harus diantisipasi dengan pemberian cinta kasih sayang dan perhatian yang cukup sehingga dia tidak mencari diluar dengan cara cara kurang baik. Lingkungan juga memberikan kontribusi yang signifikan atau sangat berpengaruh, oleh karena itu butuh peran orang tua dan sekolah dalam hal pengawasan. Karena yang namanya remaja masih labil suasana hati yang mudah berubah ubah sehingga butuh didampingi dan diawasi karena mereka masih mencari jati diri mereka.Dalam perjalanan mencari jati diri inilah hal-hal yang berkaitan dengan pergaulan bebas sangatlah rawan.

Cara yang paling mudah untuk mengetahui keadaan pergaulan remaja ialah dengan cara mengenal teman temannya, siapa sih temannya dan latar belakangnya bagaimana, rumahnya dimana dan tempat berkumpulnya dimana. Ini bisa diketahui apabila ada pola komunikasi yang baik antara orang tua dan anak misalnya anak bila akan bepergian akan pamit dan memberitahukan akan kemana dan pulang jam berapa, apabila ada komunikasi yang baik maka akan terdeteksi anaknya dimana. Ada juga anak yang berbohong untuk menutupi kepentingan apabila dia jujur tidak mendapat ijin dari orang tua. Tetapi pengawasan juga jangan terlalu ketat supaya anak belajar diberi kepercayaan sehingga dia belajar diberi tanggung jawab dari keputusan atau kesepakatan yang telah diambil. Biarkan anak remaja bisa bergaul secara normal dengan teman temannya, orang tua cukup mengawasi dari jauh saja dan apabila terjadi penyimpangan barulah orang tua menegur anak-anak tersebut.Bila penyimpangannya masih kecil mulai lah menegur dengan halus agar remaja pun merasa dihargai.
Tidak semua remaja seberuntung remaja lainnya karena tumbuh dalam keluarga yang kurang perhatian karena jumlah anaknya terlalu banyak, orang tuanya broken home, faktor ekonomi, kedua orang tuannya sibuk bekerja bisa mencukupi materi tetapi kurang bisa memberi perhatian. Untuk remaja ini bisa mendapatkan perhatian dari orang lain asal selektif misalnya di kegiatan kegiatan yang positif selain untuk sarana bergaul juga bahkan bisa ke arah prestasi. Intinya meskipun tidak mendapat cukup perhatian dari lingkungan keluarga tetapi tetap berusaha untuk mencari pergaulan di kegiatan yang positif  bisa juga di kegiatan keagamaan.
Cara bisa dilakukan agar remaja mempunyai pergaulan yang sehat dan Baik:
  • Adanya bimbingan agama sedini mungkin sehingga anak mempunyai kontrol perilaku yang kuat dalam pergaulan apabila melakukan kesalahan agar merasa takutnya kepada Tuhan.
  • Memberikan kasih sayang dan perhatian yang cukup baik dari keluarga maupun lingkungan sekitarnya.
  • Memberikan suatu pengawasan, teman temannya siapa tempat bermainnya dimana. Termasuk pengawasan dalam penggunaan media yang saat ini berkembang sangat pesat.
  • Cobalah untuk mengenali bakat dan minat sehingga bisa menyalurkannya dengan positif dalam pergaulan yang baik.

Cara agar menciptakan pergaulan yang sehat pada remaja itu ada beberapa cara. Diantaranya adalah :
v  Adanya kesadaran beragama bagi remaja – Bagi anak remaja sangat diperlukan adanya pemahaman, pendalaman, serta ketaatan terhadap ajaran-ajaran agama. Dalam kenyataan sehari-hari menunjukkan, bahwa anak-anak remaja yang melakukan kejahatan sebagian besar kurang memahami norma-norma agama. Oleh karena itu, kita harus memiliki kesadaran beragama agar tidak terjerumus dalam pergaulan yang tidak sehat. 
v  Memiliki rasa setia kawan -Agar dapat terjalin hubungan sosial remaja yang baik, peranan rasa setia kawan sangat dibutuhkan. Sebab kesadaran inilah yang dapat membuat kehidupan remaja masyarakat menjadi tentram.
v  Memilih teman  -Maksud dari memilih teman adalah untuk mengantisipasi agar kita tidak terpengaruh dengan sifat yang tidak baik/sehat. Walaupun begitu, tapi teman yang pegaulannya buruk tidak harus kita asingkan. Melainkan kita tetap berteman dengannya tapi harus menjaga jarak. Jangan terlalu dekat dengan dia. 
v  Mengisi waktu dengan kegiatan yang positif -Bagi mereka yang mengisi waktu senggangnya dengan bacaan yang buruk (misalnya novel/komik seks), maka hal itu akan berbahaya, dan dapat menghalang mereka untuk berbuat baik. Maka dari itu, jika ada waktu senggang kita harus mengisinya dengan hal-hal yang positif. Misalnya menulis cerpen, menggambar, atau lainnya.
v  Antara laki-laki dan perempuan memiliki batasan-batasan tertentu -Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya remaja harus menjaga jarak dengan lawan jenisnya. Misalnya, jangan duduk terlalu berdekatan karena dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.
v  Menstabilkan emosi – Jika memiliki masalah, kita tidak boleh emosi. Harus sabar dengan cara menenangkan diri. Harus menyelesaikan masalah dengan komunikasi, bukan amarah/emosi.
Kesimpulannya menurut saya adalah dalam menciptakan pergaulan yang sehat serta baik pada remaja itu di awali dari remaja itu sendiri. Tetapi remaja juga memerlukan dukungan dari orang-orang sekitarnya mulai dari orang tua dan teman-teman.Pergaulan yang baik adalah pergaulan yang dapat membimbing remaja untuk menjadi pribadi yang sopan,berguna bagi orang tua ,lingkungan dan bangsa.Pergaulan yang baik dapat membedakan mana hal-hal yang baik dan buru dalam bergaul dan adanya batasan-batasan tertentu dalam bergaul sehingga remaja sudah sesuai aturan.pergaulan yang baik senantiasa memberi motivasi untuk remaja untuk meraih cita-citanya sehingga tidak ada waktu untuk hal-hal yang tidak berguna bagi mereka,walaupun begitu mereka pun tetap bermain demi merefresing otak dan pikiran mereka tetapi dengan hal-hal yang wajar saja seperti menghabiskan waktu dimall atau menonton bioskop.Karena Remaja yang sudah bergaul dengan baik akan selalu mengingat tanggung jawab mereka seperti tanggung jawab sebagai anak dan murid disekolah.

sumber : https://windasirumapea.wordpress.com/2013/11/24/artikel-pergaulan-remaja-yang-baik/

'S'inggasana 'M'emori 'A'badi #pernahSMA


POP ICE 12 SOS 4

NO rasis

History of twenty twelve HOTT22

red white festival

106'22